Minggu, 24 Agustus 2014



                Mata adalah cerminan sebuah hati manusia . Karena apa ? karena apabila kita bias menahan pandangan kita , maka dia menahan syahwat dan keinginan hati . Sebaliknya , jika kita mengumbar pandangan , maka dia telah mengumbar syahwat hatinya .
                Zina mata adalah pintu pembuka dari zina-zina berikutnya. Seperti zina lidah dengan perkataannya , zina kaki dengan langkah-langkahnya , ataupun zina hati dengan angan-angannya. Kemudian , kemaluan-lah yang akan tampil sebagai sebagai demikian itu jika akhirnya benar-benar akan dilakukan , atau mendustakan jika tidak melaksanakannya.
 ولا تقربوا الزنا
                Pandangan bisa mempengaruhi hati , jika di ulangi lagi , mata akan menikmati yang haram dan akan berpindah ke hati yang sakit. Dan akhirnya , akan melukiskan cinta dan akan menggiring kea rah perbuatan yang haram pula.
                Oke , disini kita akan menjelaskan sedikit manfaat apabila kita dapat menahan pandangan kita dari hal-hal yang diharamkan untuk kita . Manfaat ini , kami ringkas dari penjelasanseorang ulama , syeikh Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyy . Berikut manfaat-manfaatnya :
1.Membersihkan hati dari derita penyesalan
                “Sesuatu yang peling berbahaya bagi hati adalah mengumbar pandangan”
2.Mendatangkan cahaya dan keceriaan di hati
                “Karena siapa yang menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita , maka Allah SWT mewariskan kelezatan di dalam hatinya. Yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu denganNya.”
3.Mendatangkan kekuatan dan firasat yang benar
                “Jika dzahir seseorang mangikuti Sunnah , batinnya merasakan pengawasan Allah SWT , dia menahan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan , mrnahan diri dari syahwat dan memakan yang halal , tentu firasatnya tidak akan meleset.”
4.Membuka pintu dan jalan ilmu serta memudahkan untuk mendapatkan sebab-sebab ilmu
5.Mendatangkan kekuatan hati , keteguhan , dan keberanian
                “Siapa yang menetang hawa nafsunya , maka syetan akan takut padanya”
6.Mendatangkan kegembiraan , kesenangan , dan kenikmatan
                “Orang yang menentang hawa nafsu , tentu kesudahannya adalah kegembiraan , kesengan , dan kenikmatan yang jauh lebih besar dari pada menikmati mengikuti hawa nafsunya”
7.Membebaskan hati dari tawanan syahwat
                “Orang yang menumbar pandangannya , ia adalah orang yang tertawan”
8.Menutup pintu neraka Jahannam
9.menguatkan dan mengokohkan akal
10.Membebaskan hati dari syahwat yang memabukkan dan kelaalian yang melenakkan
                10 hal di atas merupakan kenikmatan-kenikmatan dari Allah SWT yang diberikan kepada orang yang mampu menahan pandangannya dari hal yang haram. Apabila dia mampu menahan pandangannya , maka hatinya akan tenang dan tak terguncang.

النظرة سهم مسموم من سهام ابليس
Pandangan mata itu (laksana) anak panah beracun dari berbagai macam anah panah iblis”
                Kedudukan dalam diri seorang laki-laki ada 3 tempat , yaitu pandangannya , hatinya , serta ingatannya . Sementara padda diri seorang wanita ada 3 tempat pula , yaitu lirikan mata , hatinya serta kelemahannya.
                Oleh karena itu , mari kita jaga pandangan kita dari hal-hal yang diharamkan , kita harus membenci maksiat sebagaimana kita membenci neraka. Apabila kita menikmati maksiat tersebut , bukankah kita sama saja menikmati neraka ?

KEEP YOUR EYES !

Jumat, 22 Agustus 2014

Ibnu Bathutah
   Namanya adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati At-Thanji , Abu Abdullah , atau yang lebih sering kita kenal Ibnu Bathuthah.
       Mungkin nama ini masih asing terdengar oleh sebagian dari kita jika dibandingkan dengan Cristhoper Colombus / Vasco Da Gama. Ya , dia adalah salah seorang diantara sekian banyak penjelajah yang mengarungi seluk-beluk dunia , menempuh daerah utara hingga selatan dan dari barat menuju timur. Bukan itu saja, Ibnu Bathuthah juga merupakan seorang ahli fiqh dan pelancong yang terpercaya nan jujur. Dialah orang yang mengelilingi bumi sembari mengambil pelajaran dan ujian , mempelajari golongan dan bangsa-bangsa , membaca sejarah dari negri lain.
                Ibnu Bathuthah dilahirkan di kota Thanjah pada hari senin tanggal 11 Rajab 703 H atau 1303 M. Hal ini merupakan riwayat yang dikisahkan Ibnu Juzay. Ketika umurnya memasuki 22 tahun , pada hari kamis tanggal 2 Rajab tahun 725 H , Ibnu Bathuthah meninggalkan tanah kelahirannya menuju ke tanah suci dengan maksud menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Dan yang lebih mengagumkam , Dia melakukan perjalanan ini seorang diri tanpa teman yang mengiringi. Dan sejak saat itu tidak henti-hentinya , beliau melanjutkan rihlah-nya ke berbagai penjuru dunia. Di mulai dari Maroko , Mesir , Syam , Hijaz , Iraq , Persia , Yaman , Bahrain , Turkistan , sebagian wilayah Hindia , Cina  , Tar Tar  Afrika Tengah , hingga Nusantara pernah beliau singgahi.
                Selama Rihlah-nya ini Ibnu Bathuthah bertemu dengan banyak raja dan amir. Ia memuji mereka dalam bait-bait sya’ir nya. Bermodal dari bekal yang diberikan para raja dan amir serta tekad yang sangat kuat dalam dirinya , sehingga ia dapat melakukan semua panjelajahannya. Dan tidak lupa dengan izin Allah SWT.
                Dalam setiap perjalanannya , dia tidak pernah “asal” dalam memilih negri yang akan ditujunya.  Dengan membandingkan kondisi berbagai negri dan penduduknya , ia memutuskan pilihannya. Keputusannya ini juga dikarenakan ingin bertemu dengan kelompok manusia utama yang memberinya banyak kebaikan.
                Sebagai salah satu contohnya yang dikisahkan olehnya ketika “mendarat” di Nusantara. Ibnu Bathuthah menceritakan pertemuannya dengan Sultan Jawa yang bernama Sultan Malik Azh-Zhahir. Dalam ceritanya , dia menyebut Sultan Malik Azh-Zhahir sebagai sosok yang disegani dan dihormati. Lebih dari sekedar itu , dia juga sangat mencintai para fuqaaha’ yang dating ke majelisnya untuk bertukar pendapat. Masyarakat juga mengenalnya sebagai sosok yang senang berjihad dan berperang.Sultan ini juga terkenal dengan kerendahan hatinya , ia datang ke masjid untuk menunaikan shalat jum’at dengan jalan kaki. Oleh karena semua alasan ini , sebagian besar masyarakat pengikutnya dengan kerelaan hati melaksanakan jihad bersama Sultan , hingga mereka memenangkan peperangan melawan orang-orang kafir. Bahkan , orang-orang kafir dengan berat hati membayar jizyah kepada Sultan sebagai bentuk perdamaian. Inilah salah satu pengalaman yang dicerikan Ibnu Bathuthah kepada Ibnu Juzay.
               
                Setelah selesai dari semua perjalanannya tersebut , ia kembali ke maroko dan menjadi orang kepercayaan Sultan Abu Inan , yang merupakan salah seorang raja dari Bani Marin. Ibnu Bathuthah menetap di negri tersebut dan mendiktekan catatan serta kisah-kisah perjalannanya untuk ditulis ulang oleh Muhammad ibnu Juzay al-Kalbi di kota Fez pada tahun 756 H. Lembaran-lembaran tulisannya tersusun menjadi sebuah kitab yang diberinya judul “Tuhfah An-Nuzhzhar fii Garaa’ib Al-Anshaar wa ‘Ajaa’ib Al-Azfaar” yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing , seperti Inggris , Perancis , Portugis , Jerman tidak ketinggalan pula dalam bahasa Indonesia dan karyanya ini telah tersebar lusa diberbagai negri.
                Ibnu Bathuthah menguasai Bahasa Turki dan Persia. Rihlah-nya menghabiskan waktu selama 27 tahun, mulai tahun 1325 hingga 1352. Pada tahun 779 H , atau tepatnya tahun 1377 M , beliau ( Ibnu Bathuthah ) meninggal dunia di Markesh. Perlu diketahui , bahwa dalam buku dan atlas terbitannya , Universitas Cambridge menyematkan kepada Ibnu Bathuthah sebuah gelar “Pemimpin Pelancong Muslim”. Sebuah hal yang luar biasa bukan ??
                Nah , kita bias mengambil beberapa pelajaran bahwa yang menjadi alasan beliau melakukan rihlah-nya mengelilingi Dunia adalah keinginan beliau ( Ibnu Bathuthah ) bertemu banyak imam , ulama , raja , penyair , dan amir  untuk “menggali” ilmu dari pakarnya. Ibnu Bathuthah telah melaksanakan bisikan yang mulia untuk mengisahkan apa yang dilihatnya sepanjang perjalanan diseluruh belahan bumi  dan tentang akhbar ajaib. Keadaan yang dialaminya serta panjangnya perjalanan tidak membuatnya menyerah untuk mendapatkan apa yang oleh kebanyakan orang hanya dimimpikan.
                Menjadi biasa-lah segala apa yang dianggap orang lain sebagai hal yang luar biasa. Seperti mencari ilmu di negri orang , mendapatkan lahan yang subur , serta bertemu para raja , wali , maupun ulama’ yang ditemuinya.

                Dalam banyak hadits Rasulullah SAW , Beliau SAW telah menganjurkan kita untuk melakukan rihlah , atau safar. Misal , dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Abbas berkata : “Telah bersabda Rasulullah SAW , “Bersafar-lah , maka kalian akan sehat!” H.R. Ahmad , Al-Baihaqi , dan Al-Hindi.
                Masih ada lagi , dari Abu Hurairah RA , ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda , “Berperanglah maka kalian akan mendapatka ghanimah! Berpuasalah maka kalian akan menjadi sehat! Bersafar-lah maka kalian akan merasa kaya!” H.R. Al-Baihaqi dan As-Suyuthi.
                Dengan demikian , para salafush shaleh sangat menyukai safar. Tetapi sebagian dari mereka melakukanyya sebagai hobi dan kebiasaan, sebagian yang lain dalam rangka berniaga. Sebenarnya , jika kita menilik sejarah , banyak pelancong-pelancong muslim selain Ibnu Bathuthah , yang sedang kita bahas . Tinggal giliran kita , kapan kita akan menaklukkan dunia untuk kita kuasai agar menjadi satu ke-khalifahan islamiyyah ?? mengapa kita menunngu orang lain ?? Kita-lah orangnya.

Ibnu Bathutah